Setelah tulisan saya tentang mitologi Yunani vakum selama sebulan lebih, kali ini saya akan menceritakan kembali tentang negeri-negeri yang sering disebut dalam cerita dan naskah kuno, dan kita mulai dengan Atlantis. Walaupun tidak pernah muncul dalam kisah mitologi yang ditulis sebelum abad pertama Sebelum Masehi, tapi kisah ini sangat terkenal di dunia dan banyak menimbulkan spekulasi dari para ilmuwan dan peneliti. Blog ini sendiri tidak dibuat untuk membahas kontroversi apakah Atlantis itu benar-benar ada atau dimana lokasi Atlantis itu berada, tetapi menggambarkan seperti apa peradaban yang hilang itu menurut catatan yang ditulis Plato, seorang filsuf Yunani 360 tahun SM. Mohon untuk tidak memposting link yang berkaitan dengan kontroversi dan spekulasi tentang keberadaan Atlantis.
I. Atlantis : Daratan yang keberadaannya pernah dilupakan.
Atlantis atau Nesos Atlantis dalam bahasa Yunani, diperkirakan terletak di seberang Pilar-Pilar Herakles, Selat gibraltar, di Samudra Atlantik sekarang. Kisah mengenai Atlantis pernah dilupakan orang sampai 360 tahun SM, Plato (429-347 SM) menyebut nama Atlantis dalam catatan dialognya yang berjudul Timaeus dan Critias. Isi catatan itu berupa dialog antara Sokrates (guru Plato), Hermokrates (seorang negarawan dari Syrakusa), Timaeus dan Kritias (kakek buyut Plato). Dalam dialog itu, Timaeus dan Kritias bercerita tentang sebuah kisah yang ”bukan sekedar fiksi, melainkan kisah yang benar-benar terjadi”. Mengenai konflik yang terjadi antara Athena dengan Atlantis yang terjadi 9000 tahun sebelum zaman Solon, seorang penjelajah Athena (638-558 SM). Solon mendengar kisah Atlantis dari pendeta Mesir yang bernama Psenophis dari Heliopolis dan Sonkhis dari Sais dimana ia mempelajari kisah tentang daratan yang hilang ini. Lalu Solon menceritakan kembali kepada Dropides, kakek buyut Kritias. Kritias ini adalah kakek buyut dari Kritias yang hadir dalam dialog dengan Sokrates, kebetulan mereka bernama sama, jadi ada dua Kritias disini.
Menurut Kritias, dahulu ada sebuah pulau yang terletak di seberang selat yang disebut Pilar-pilar Herakles, sebuah daratan yang lebih besar dari gabungan Libya dan Asia, yang dari satu pulau bisa menuju pulau-pulau lainnya. Lalu terjadi gempa bumi dahsyat dan banjir hebat sehingga dalam waktu sehari semalam semuanya tenggelam dan kisah mengenai Atlantis lenyap dari ingatan orang-orang. (
Plato, Timaeus 24e – 25d).
Kisah terperinci mengenai Atlantis diceritakan lebih lanjut dalam
Critias 108e-109c & 113c-121c:
Di sebuah dataran di pulau Atlantis yang paling subur dan penuh tumbuh-tumbuhan, ada sebuah bukit kecil. Lalu tanah dibukit itu lahir penghuni pertama Atlantis yang bernama
Euenor, putra
Bunda Bumi. Ia menikah dengan seorang wanita bernama Leukippe dan ia melahirkan anak perempuan satu-satunya yang diberi nama
Kleito.
Saat Kleito tumbuh dewasa dan kedua orang tuanya sudah meninggal,
Poseidon, dewa penguasa lautan, jatuh cinta kepadanya dan menikahinya. Untuk melindungi istrinya tersebut, Poseidon membelah Bumi, membuat kanal-kanal yang mengelilingi bukit itu yang saling melingkari membentuk cincin satu sama lain. Dan di tengah-tengahnya ia membangun sebuah istana untuk tempat tinggal istrinya itu. Ia juga membuat dua buah mata air, yang satu memancarkan air hangat dan yang satu lagi air dingin. Tidak hanya itu, Poseidon membuat tanah di Atlantis sangat subur sehingga segala macam tanaman bisa tumbuh di daratan itu.
Kleito melahirkan lima pasang putra kembar yang kemudian memerintah Atlantis dan ia membagi Atlantis menjadi 10 bagian. Anak paling tua bernama
Atlas (dari sanalah istilah Atlantis berasal) yang mendapatkan bagian yang paling subur dan paling luas, di tengah-tengah Atlantis, di sekitar bukit tempat ibunya tinggal dan kekuasaannya lebih tinggi dari bagian yang diperintah saudara-saudaranya yang lain. Nama saudaranya yang lain adalah:
Gadeioros (
nama Yunani: Eumelus),
Ampheres,
Euaimon,
Mneseos,
Autohkthon,
Elasippos,
Mestor,
Azaes dan
Diaprepes.
Nama-nama Yunani yang digunakan untuk menyebut tokoh-tokoh Atlantis ini, yang tentu saja memiliki bahasa yang berbeda dari Yunani, berawal dari Solon yang ingin menulis syair tentang Atlantis dan perlu mengetahui arti nama-nama mereka. Ia menemukan orang-orang Mesir pun telah menggunakan nama-nama Mesir untuk menyebut nama orang dari Atlantis. Jadi tidak perlu heran dalam catatan Plato ini orang-orang Atlantis memiliki nama yang biasa kita temukan dalam bahasa Yunani.
Kesepuluh putra Poseidon beserta keturunannya bertahun-tahun memerintah Atlantis dan kekayaanya melimpah ruah. Mereka memperolehnya dari hasil bumi Atlantis sendiri dan pemberian negeri-negeri tetangga. Begitu kayanya Atlantis sehingga kita tidak akan pernah bisa membayangkannya dan tidak akan ada lagi yang bisa menyamainya.
Tanah Atlantis menghasilkan sejenis logam yang disebut orikhalkum (tembaga yang berasal dari pegunungan) yang saat itu nilainya sangat berharga di atas semua logam kecuali emas, disana juga banyak terdapat spesies binatang, terutama gajah yang berjumlah sangat banyak.
Di sebelah selatan pulau, orang-orang Atlantis menggali sebuah terusan yang lebarnya 300 kaki, dalamnya 100 kaki dan panjangnya 50 stadia (-/+ 10 km) sebagai tempat kapal-kapal masuk ke daratan. Dermaga mereka terbuat dari tembok batu dan penuh oleh berbagai kapal pedagang yang datang dari berbagai negara.
Setiap jalan masuk ke kota terdapat gerbang dan menara yang dijaga, dan tembok dibangun mengelilingi setiap kanal yang berbentuk cincin. Tembok didirikan dari bebatuan berwarna putih, hitam dan merah yang berasal dari tanah disekitar pusat pulau, dan dilapisi oleh logam kuningan dan orikhalkum. Mereka juga menjembatani kanal-kanal yang mengelilingi kota tua mereka, menuju ke istana kerajaan di puncak bukit. Bangunan-bangunan lain dibangun dengan bahan yang sama, sebagian bentuknya sederhana dan sebagian yang lain berbahan batu warna-warni sehingga sedap dipandang mata.
Istana di dalam benteng berupa kuil suci yang dipersembahkan untuk Poseidon dan Kleito dan dikelilingi emas. Tempat suci ini adalah tempat berkumpulnya kesepuluh penguasa Atlantis untuk mendiskusikan hukum, menetapkan keputusan dan memberi penghormatan kepada Poseidon.
Disana juga terdapat kuil Poseidon yang panjangnya 200 m, lebar 100 m, tingginya sangat proporsional dan sangat megah. Tembok luar kuil dilapisi oleh perak dan emas. Di ruangan dalam selain penuh dengan emas dan perak, dinding, lantai serta pilar-pilarnya juga dilapisi oleh orkhalkum, sementara atap kuil terbuat dari gading.
Di dalam kuil itu terdapat patung Poseidon yang terbuat dari emas yang sedang berdiri di atas kereta yang ditarik enam ekor kuda bersayap dan ketinggiannya mencapai langit-langit kuil. Disekeliling patung Poseidon terdapat ratusan patung para
Neredia, peri-peri laut yang mengendarai lumba-lumba.
Sedangkan di luar sekeliling kuil terdapat patung seluruh keturunan dari 10 raja pertama Atlantis beserta istri mereka yang terbuat dari emas.